Gurat Kenangan Robert William di Bandung dalam ‘Titik Singgah’

Malam ini, Bandung berangin dan gerimis.

Selasa, 19 Februari 2019,  area Dago atas dipadati oleh seniman dan para pecinta seni. Menjelang malam, lilin di sekitar Thee Huis galeri disebar. Pemain saxophone dan gitar siaga menghidupkan suasana. Pintu utama galeri resmi dibuka.

WhatsApp Image 2019-02-20 at 10.31.29

William Robert, setelah dua puluh enam tahun, kembali ke Bandung dengan menggelar pameran tunggal dengan tajuk ‘Titik Singgah’.

Dalam pamerannya kali ini, William mempersembahkan sepuluh peristiwa yang diguratnya ke dalam karya-karya yang artistik. Perpaduan antar garis, bentuk, simbol, serta warna menjadi komposisi utama dalam karyanya. Setiap elemen mewakili representasi tertentu. Warna merah, misalnya, yang dipilih William sebagai perwakilan kelompok Tionghoa yang selama ini telah berjasa dalam mendukung karirnya. Lengkung sebuah wilayah digoreskan William untuk menggambarkan kota Bandung, sementara goresan lain di dalam lengkung tersebut hadir dalam beragam warna dan bentuk, mewakili lambang keramahan kota Bandung pada akulturasi. Melalui salah satu karyanya, William ingin menunjukan bahwa siapapun, dengan etnis manapun, akan diterima di kota Bandung untuk menjadi kesatuan. Keterbukaan itulah yang dipercaya William mampu menorehkan banyak warna, sebanyak yang telah ditorehkannya dalam karya pamerannya kali ini.

WhatsApp Image 2019-02-18 at 14.51.22

Dalam pembukaan pameran ‘Titik Singgah’, William menceritakan perjalanannya sebagai seniman yang dimulai dari sepetak kamar ukuran 2 x 3, di daerah Sekeloa. Bagaimana pada awalnya ia menciptakan karya komersil untuk menyambung hidup. Ia juga menceritakan pertemuan perdananya dengan Sunaryo, yang telah meraih banyak penghargaan, salah satunya “Lifetime Achievement Award” dari Yayasan Biennale Jogja (2017). Serta Eddy Sugiri, seorang arsitek yang kini bergelut membangun wine culture di Bandung sekaligus Indonesia melalui The Peak Connoisseurs, yang telah tersebar sebanyak 14 outlet di Bandung, 2 outlet di Jakarta, serta 1 outlet lagi di Bali, Seminyak. Beliau juga senantiasa memberikan bantuan dukungan sepanjang karir William sampai hari ini.

Bapak Eddy yang malam tadi turut hadir membuka pameran juga memberikan sambutannya pada William dan perjalanan karirnya sebagai seniman. Beliau menjelaskan bagaimana seniman, dengan kepekaan serta kemampuannya mengemas potret sosial ke dalam karya seni mampu menjadikannya sebagai refleksi budaya dan catatan sejarah penting dalam kehidupan bermasyarakat. Yang tidak hanya mengandung nilai-nilai kemanusiaan, melainkan juga nilai estetika yang layak mendapat atensi dan apresiasi.

WhatsApp Image 2019-02-18 at 14.51.26

Pameran William berlangsung sampai tanggal 28 Februari 2019, dibuka pukul 10 pagi sampai dengan 5 sore. Pameran William memungkinkan Anda untuk mengamati struktur geografis, kultur, isu sosial, etnik sampai agama dari sepasang mata William, dikemas dengan apik melalui karya-karyanya yang estetik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s